top of page

MENCARI WAKTU


Beberapa orang teman saya yang bekerja full time di sebuah perusahaan melihat makna kebebasan waktu dari perpektif berbeda. Kebebasan waktu yang mereka inginkan tanpa sadar harus dibayar dengan ‘harga’ mahal.

mari kita coba lihat perspektif ini; Seorang bernama Akhmad berkarir di sebuah perusahaan milik negara yang masuk setiap hari jam 8.00 pagi dan pulang jam 16.00 sore. Posisinya sebagai di level supervisor dan sudah bekerja selama 6 tahun. jarak dari rumah ke kantor setiap hari ditempuh dalam waktu rata-rata 90 menit di pagi hari dan 120 menit di sore hari, sabtu sudah dialokasikan untuk menghabiskannya bersama keluarga dan teman-teman.

Suatu waktu dia diminta untuk meningkatkan kemampuan soft skill-nya yaitu meningkatkan kemampuan berbahasa Inggris, karena salah satu syarat untuk naik ke jenjang karir berikutnya, nilai IELTS nya harus 6.0 sebagai salah satu syaratnya. Akhmad bingung karena dia lulusan teknik mesin yang tidak mengutamakan kemampuan bahasa asing dalam pekerjaan dan karir-nya. Sehingga kemampuan berbahasa Inggrisnya tidak sebaik kemampuan perhitungan matematika yang dikuasainya. Dan ketika harus belajar lagi, salah satu alasan utamanya adalah, ‘tidak ada waktu’ Apakah anda pernah mengalami kejadian seperti Akhmad atau mirip mirip atau bahkan, mendengar pengalaman orang lain yang serupa dengan kejadian Akhmad? Ada sebuah buku yang saya baca beberapa waktu lalu tentang memulai sesuatu, sang penulis menyampaikan bahwa dalam memulai sesuatu, kita harus menjadwalkan prioritas kita bukan memprioritaskan jadwal kita agar memiliki sebuah ‘kebiasaan’ baru. Koq jadi muncul kata kebiasaan? Ijinkan saya jelaskan dengan mengambil contoh dari pengalaman Akhmad; Akhmad sudah bekerja selama 6 tahun artinya 3.155.693 menit yang sudah dia lewati di perusahaan tersebut, 302.400 menit diantaranya dihabiskan di jalanan untuk pergi dan pulang kantor, belum lagi jika ada pekerjaan tambahan dan harus lembur jika rata-rata, setiap akhir pekan dihabiskan untuk tidur-tiduran sambil nonton televisi, pergi bersama keluarga dan teman-teman digunakan selama 20 jam selama sabtu dan minggu maka sudah 2.080 jam yang dihabiskan. tetapi misalkan saja, jika Akhmad mengalokasikan waktunya setiap hari maksimal 20 menit saja untuk berlatih berbahasa inggris, membaca, bercakap-cakap dan bahkan menjadikan sebuah kebiasaan sehari-hari, maka saya yakin kata-kata ‘tidak ada waktu’ tidak akan pernah terpikir dan terucap olehnya. Soft skill berkaitan erat dengan kebiasaan dan kebiasaan adalah sesuatu yang mudah diucapkan namun sulit dipahami cara bekerjanya sehinga banyak orang tidak paham bagaimana mempelajarinya. Kebiasaan seperti ‘candu’. semakin lama dilakukan semakin ‘nyaman’ karena sudah nyaman maka kita akan sulit memulai sesuatu yang baru. Hal baru yang dilakukan sebelum 21 hari belum menjadi kebiasaan. karena sebuah kegiatan atau rutinitas baru, membutuhkan waktu ideal selama 21 hari untuk menjadi kebiasaan baru. Jika Akhmad memulai untuk mempraktek-kan kemampuan bahasa inggris-nya selama 21 hari berturut turut, maka kemampuan akhmad akan bertambah sedikit demi sedikit dan akhirnya Akhmad tak perlu mencari waktu untuk belajar bahasa inggris mulai dari dasar lagi. Bahasa itu seperti pisau yang harus terus menerus diasah hingga ‘tajam’. Jika pisau tak lagi tajam, maka dia harus diasah dan butuh waktu untuk mengasahnya, sama seperti bahasa jika tidak digunakan maka butuh waktu untuk mengasahnya lagi.

Featured Posts
Recent Posts
Archive
Search By Tags
Follow Us
  • Facebook Basic Square
  • Twitter Basic Square
  • Google+ Basic Square
bottom of page